Posts

Tubuh yang Dipulangkan, Keadilan yang Tidak

kulihat lehernya patah bukan karena motor yang terpelanting melainkan sepatu bot yang menari di tubuh yang tak lagi melawan perutnya biru, seperti ladang tempat dendam dipanen dengan tapak demi tapak, punggungnya bercerita tanpa kata, tanpa suara ada bekas gas air mata, tapi yang lebih pedih adalah luka yang tidak pernah ditangisi oleh mereka yang memberi perintah lalu mencuci tangan dengan sebatas pernyataan  ayahnya tak diberi kronologi, hanya disodori surat yang berisi  larangan membuka kebenaran "tidak boleh otopsi", "tidak boleh menuntut", padahal yang ia tuntut hanya satu: kenapa anaknya pulang dalam keadaan remuk? apakah kau bisa membayangkan? Tubuh yang Dipulangkan, Keadilan yang Tidak jika itu anakmu? jika itu saudaramu? jika itu temanmu? besok siapa lagi? atau kita semua yang berbaring dengan pelipis sobek dan leher diputar untuk menyamakan wajah kita dengan foto KTP kemarin kita berkata, "hari ini Affan, besok siapa?" dan selanjutnya Reza, lalu ...

Aku sedang berkabung

Aku sedang berkabung Melihat angka yang menyentuh digit baru Mereka yang bersuara, kini meninggalkan dunia Ada yang dilindas Ada yang dipukuli satu kompi Ada yang terjebak api, yang entah siapa yang perintah  Usia mereka beragam, tapi jika kamu jeli, kebanyakan dari mereka seharusnya menikmati 2045 Yang katanya, mimpi besar para penguasa Yang aku tak tahu, dari kapan mimpi itu dimulai dan bagaimana nanti ia diwujudkan Apakah emas hanya untuk yang berkuasa? Lupakan sejenak mimpi itu Jika nyawa kita sebagai manusia  masih hanya sebatas angka  Kalau begitu emas adalah lebih hina  Aku sedang berkabung Untuk Affan dan untuk semua anak negeri yang tumbuh dengan harapan dilindungi oleh negara, oleh hukum, oleh aparat Tapi malah dibuat takut, dianiaya,  dilindas meski sudah tak berdaya, dianggap target oleh mereka yang  mengikuti komando dengan buta Silakan berkejaran dengan apa saja di dunia Aku kira kalian juga tidak takut pada akhirat Tapi tolong, para pemegang ...

Rayakan Kemerdekaan

Rayakan kemerdekaan sebagai siapa kamu Tak perlu berseragam, tak perlu berpedang Jadilah dirimu saja, pelajar, petani, atau petugas jalanan Merdeka adalah hak memilih arah, bukan bentuk peran Tak semua harus mengabdi pada khalayak luas, cukup beri usaha maksimal dan berlaku adil pada sesama Sekali lagi, rayakan kemerdekaan sebagai kamu saja Tak perlu dengan pengakuan siapa-siapa, sebab setiap yang ikhlas adalah kemerdekaan yang tak bisa dihakimi dari hasil semata Dan jika suatu hari kamu ingin berhenti berusaha, Ingatlah, di tanah yang katanya merdeka, masih banyak jiwa menderita, bukan karena malas, tapi karena hidup mereka hanya dihitung angka Satu warga negara, lalu dua, hingga 23 juta yang standarnya ditentukan semena-mena Apa arti bangun pukul tiga, menyiapkan nasi untuk keluarga, berangkat kerja dengan doa-doa, berusaha menaungi, tapi tidak dinaungi siapa? yang bahkan tidak dilihat keberadaannya,  setelah pemilihan raya yang malah setiap upayanya diminta persenan dalih negara...

What matters most to me

Image
This story begins at the moment I first discovered my own determination, somewhere after junior high school. With only a small amount of preparation, I firmly set my sights on starting a journey through this fleeting world. My first step was returning to nature, just like many others do. From that point, my connection to nature only grew stronger. That’s when I began learning about what it means to love. However, love isn’t merely about speaking what’s in your heart. It also means believing in it so that no space remains for doubt. In its essence, love is simplicity. That’s why it became the proper supply for my journey. You can become anything through what you love. This thought then leads to the next question: Why are you here in this world? As someone still young and eager to explore, I would say, “to love nature and everything within.” I’ve formed many friendships, some good, and others incredibly good as well. Just like love, nothing in this world is inherently bad. Even the devil...

Rezeki/Nikmat

Image
  Beberapa hari belakangan, aku mulai memikirkan tentang keadaan finansial. Memang, aku bukan seorang pengusaha yang terbiasa menghadapi naik-turun pemasukan atau mahir memikirkan likuiditas keuangan. Namun, memahami manajemen keuangan adalah salah satu ilmu mendasar untuk hidup di era digital, di mana uang (gajimu) ditransfer dan disimpan dalam bentuk elektronik. Perkembangan teknologi yang pesat memungkinkan semua itu terjadi. Dalam pengalamanku, karena uang tidak dipegang secara fisik, ia sering kali mengalir deras tanpa pemberitahuan pun tujuan vocvocvoc (re: ketawa khas akuntan) Oleh karena itu, ilmu tentang manajemen keuangan sangatlah penting. Meski tidak harus terlalu mendetail, sekadar melamunkan prioritas atau membuat daftar pengeluaran sudah cukup. Intinya, kamu memegang kendali atas ke mana hartamu bermanfaat, tentunya dengan kebijakan yang tepat. Di sini tidak akan dituangkan tips-tips untuk mengatur keuangan agar tidak boncos di akhir bulan. Tulisan ini hanyalah kere...

Harapan

Image
Semua berawal dari gempa bumi Jayapura Januari 2023, kalau tidak salah itu dua tahun yang lalu, tepatnya 2 Januari 2023. Aku berada di depan layar monitor bersama Kang Teul saat gempa bumi M4.9 menerjang, membuka rentetan ribuan gempa setelahnya. Situasi ini memaksa Pemerintah Kota Jayapura menetapkan status Tanggap Darurat pada 9 Februari, menyusul gempa bumi M5.4 pada hari itu yang merobohkan sebuah kafe di Dok II, Jayapura Utara. Sebagai analis geofisika saat itu, hari-hariku penuh dengan rutinitas kerja yang sibuk, bahkan mungkin kurang tidur selama masa tersebut. Pelajaran untuk bertindak tepat di tengah situasi kacau akibat bencana terserap baik, meski tak selalu sempurna seperti yang diharapkan. Namun, setidaknya pengalaman itu membuka wawasan baru: bencana alam selalu menjadi pengingat bahwa masyarakat Indonesia belum sepenuhnya tangguh menghadapi bencana. Sejak saat itu, sosialisasi terkait gempa bumi semakin digencarkan, terutama di pelosok-pelosok Indonesia. Alam memang ...

Jejak Sederhana

TWS itu kupersembahkan, aku hanya akan meminjam Maaf jika terlambat, akan lebih kuperhatikan yang dekat Mungkin besok akan ku berikan kepada pasangan Maaf juga jarang menyapa, terlalu sibuk pura-pura bekerja Banyak hal ingin kuceritakan, mungkin kelak saat waktunya tiba Kita belum banyak berdebat, soal negara dan dunia Seorang ahli sosial, dan diploma geofisika berbicara Elok kiranya, jika kita saling berbagi pandangan Aku berjanji, akan meningkatkan kapasitas diri Bukan demi pangkat, golongan, atau pekerjaan  Seperti yang kau siapkan dengan kesederhanaan  Agar lebih bermanfaat bagi sesama dan lingkungan Aku akan menyerupaimu, tua dan sederhana   Lalu mencoba menapaki jalan lebih jauh lagi  Yang tak pernah terbayang sebelumnya  Sampai kutemui Tuhan di ujungnya Auckland