Tubuh yang Dipulangkan, Keadilan yang Tidak
kulihat lehernya patah bukan karena motor yang terpelanting melainkan sepatu bot yang menari di tubuh yang tak lagi melawan perutnya biru, seperti ladang tempat dendam dipanen dengan tapak demi tapak, punggungnya bercerita tanpa kata, tanpa suara ada bekas gas air mata, tapi yang lebih pedih adalah luka yang tidak pernah ditangisi oleh mereka yang memberi perintah lalu mencuci tangan dengan sebatas pernyataan ayahnya tak diberi kronologi, hanya disodori surat yang berisi larangan membuka kebenaran "tidak boleh otopsi", "tidak boleh menuntut", padahal yang ia tuntut hanya satu: kenapa anaknya pulang dalam keadaan remuk? apakah kau bisa membayangkan? Tubuh yang Dipulangkan, Keadilan yang Tidak jika itu anakmu? jika itu saudaramu? jika itu temanmu? besok siapa lagi? atau kita semua yang berbaring dengan pelipis sobek dan leher diputar untuk menyamakan wajah kita dengan foto KTP kemarin kita berkata, "hari ini Affan, besok siapa?" dan selanjutnya Reza, lalu ...