Chapter XXICXXIX: Lelaki

Sudah beberapa bulan lalu, sejak hiatus pandemi, akhirnya lembar petualangan di hidup yang singkat ini terisi kembali. Barangkali memang sudah disiapkan waktu yang tepat untuk bergerak bangun dari kegelisahan tentang apa kebermanfaatan diri ini diciptakan di muka Bumi. Bisa jadi kegelisahan itu mendorong doa-doa yang sudah dipanjatkan mengetuk pintu langit. Kisah baru yang sudah siap untuk dipertunjukkan pada panggung kehidupan, dalam hal ini kehidupan penulis, minimal. Apapun sebabnya, petualangan baru telah menanti dan seorang lelaki menerima panggilan-Nya. Menuju kota sedang paling timur di Indonesia. Kalau ada yang tanya ngapain, mungkin jawaban paling diplomatis adalah menanam cinta. Seperti yang pernah Rumi syairkan, “Dengan hidup hanya sepanjang tarikan nafas jangan tanam apa-apa kecuali cinta.” Selain itu, mungkin ada petualangan lain yang diamanahkan, sok-asik-ini-asli-bahasanya-aihaihauuuhhh. Jawaban seperti itu memang tidak memuaskan pertanyaan seutuhnya dan seba...